Pages

Film The Hunger Games – Catching Fire

Rabu, 26 Februari 2014

The Hunger Games
Ketika The Hunger Games dirilis tahun lalu, kita dengan sesegera mungkin membandingkannya dengan seri film The Twilight Saga. Tidak aneh memang, selain karena kedua jalan ceritanya dipimpin oleh sosok karakter utama wanita yang begitu dominan, baik The Hunger Games dan seri film The Twilight Saga (2008 – 2012) juga melibatkan jalinan kisah cinta segitiga yang, tentu saja, tampil begitu menggiurkan bagi kalangan penonton young adult yang memang menjadi target penonton utama bagi kedua seri film ini. 

Meskipun begitu, The Hunger Games kemudian membuktikan kekuatannya ketika berhadapan dengan  faktor kritikal maupun komersial: The Hunger Games tidak hanya mampu menarik perhatian penonton dalam skala besar – total pendapatan sebesar lebih dari US$ 691 juta dari biaya produksi yang “hanya” mencapai US$78 juta – namun juga berhasil meraih pujian luas dari para kritikus film dunia, khususnya atas susunan cerita yang lebih kompleks dan menegangkan daripada The Twilight Saga serta penampilan Jennifer Lawrence yang begitu memikat.

The Hunger Games: Catching Fire sendiri merupakan sekuel pertama bagi The Hunger Games yang juga masih diadaptasi dari seri novel berjudul sama karya Suzanne Collins. Beberapa perubahan terjadi dalam proses produksi film ini. Kursi penyutradaraan The Hunger Games: Catching Fire kini diduduki oleh Francis Lawrence (Water for Elephants, 2011) yang menggantikan posisi Gary Ross. Dan, yang membuat The Hunger Games: Catching Fire tampil lebih menjanjikan, naskah ceritanya kini ditangani oleh dua penulis naskah kaliber Academy Awards, Simon Beaufoy (127 Hours, 2010) dan Michael Arndt (Toy Story 3, 2010). Deretan nama-nama baru dalam proses produksi The Hunger Games: Catching Fire ternyata mampu memberikan nafas baru yang sangat menyegarkan bagi film ini. Tidak hanya tampil lebih baik dalam bercerita dari seri pendahulunya, The Hunger Games: Catching Fire juga terasa lebih padat dan kuat dalam mencengkeram sisi emosional penontonnya – hal yang mungkin tidak akan pernah dibayangkan kebanyakan orang untuk datang dari sebuah seri film yang dianggap sebagai pengganti posisi seri film The Twilight Saga.

Kisah trilogi The Hunger Games berlanjut ketika Katniss Everdeen, bersama teman satu distriknya, Peeta Mellark, berhasil mengelabui Capitol dan memenangkan The Hunger Games. Catching Fire menceritakan kehidupan Katniss setelah ia menjadi pemenang dan merasakan kemewahan yang diberikan oleh Capitol padanya dan Peeta. Namun Katniss dan Peeta tidak merasa senang, melainkan menyesal dan merasa berdosa karena menyebabkan peserta lainnya tidak selamat. Perasaan menyesal itu bertambah ketika Tur Kemenangan keliling Distrik diadakan, dimana Katniss dan Peeta harus berhadapan dengan keluarga peserta yang tidak selamat di Arena dan menyampaikan permintaan maaf kepada penduduk distrik yang telah kehilangan slaah satu anggota distriknya.

Katniss dan Peeta
Capitol yang sebelumnya marah akibat perlakuan Katniss dan Peeta yang mengelabui mereka dalam Games, jadi semakin panas. Mereka menganggap Katniss dan Peeta telah memulai pemberontakan. Maka di tahun berikutnya, Capitol mengadakan Quarter Quell (perayaan The Hunger Games ke 75) dan berbeda dengan tahun sebelumnya, Capitol memutuskan untuk mengambil peserta dari para Pemenang The Hunger Games yang masih hidup. Katniss dan Peeta, yang belum selesai menghadapi trauma pasca games, diharuskan untuk ikut dalam perayaan tersebut dan kembali ke Arena untuk bertarung sampai mati melawan Pemenang Hunger Games ditahun-tahun sebelumnya.

Keberadaan Simon Beaufoy dan Michael Arndt dalam departemen penulisan naskah The Hunger Games: Catching Fire jelas memberikan kontribusi yang sangat berarti bagi peningkatan kualitas jalan cerita film ini. Jika jalan cerita The Hunger Games sepertinya lebih berusaha untuk memberikan fokus pada kisah asmara yang terbentuk antara karakter Katniss dan Peeta – dengan hubungan antara karakter Katniss dan Gale menjadi kisah bayangannya, maka The Hunger Games: Catching Fire jelas memberikan ruang yang lebih luas bagi elemen-elemen penceritaan lain untuk dapat berkembang. Jangan salah. Romansa yang terbentuk antara ketiga karakter tersebut masih dihadirkan dalam penceritaan The Hunger Games: Catching Fire. 

Hanya saja, daripada menjadikannya sebagai sebuah sajian utama, Beaufoy dan Arndt memilih untuk menyajikan kisah romansa tersebut sebagai bagian tidak terpisahkan dari sebuah jalinan kisah yang lebih universal lagi. Keterikatan antara kisah romansa dengan elemen-elemen penceritaan lain dalam jalan cerita The Hunger Games: Catching Fire inilah yang membuat film ini mampu bercerita lebih kuat dan jauh, jauh lebih emosional dibandingkan dengan The Hunger Games.

Tidak hanya dari sisi cerita. Beaufoy dan Arndt juga berhasil memberikan pendalaman karakter yang lebih luas bagi banyak karakter pendukung. Lihat bagaimana karakter Effie Trinket (Elizabeth Banks) yang kini tampak lebih humanis daripada sebelumnya. Atau karakter Gale dan Primrose Everdeen (Willow Shields) yang diberikan ruang yang lebih luas untuk bercerita. Keberhasilan Beaufoy dan Arndt untuk membangun susunan cerita yang lebih padat dan berisi kemudian mendapatkan eksekusi yang begitu cerdas dari Francis Lawrence. Lawrence menggarap The Hunger Games: Catching Fire secara perlahan dengan memberikan ruang yang cukup bagi penonton untuk mencerna apa yang telah terjadi dalam seri sebelumnya sekaligus memberikan gambaran mengenai insiden yang akan berjalan di seri ini. 

Ritme penceritaan memang terasa berjalan lamban di awal film. Namun hal itu kemudian berubah dan terasa berjalan begitu cepat ketika The Hunger Games: Catching Fire telah menginjak konflik utamanya. Paduan penceritaan dan pengarahan yang padat inilah yang kemudian berhasil membuat The Hunger Games: Catching Fire tampil begitu emosional sekaligus menegangkan – bahkan akan berhasil membuat penonton menggeram di kursi mereka ketika film ini berakhir dan menyadari bahwa lanjutan kisah berikutnya baru akan hadir setahun kemudian.

Jennifer Lawrence

And let’s talk about Jennifer Lawrence. Lawrence adalah bintang utama dalam presentasi kisah The Hunger Games: Catching Fire dan Lawrence berhasil menarik seluruh perhatian penonton untuk tertuju padanya setiap kehadiran karakter Katniss Everdeen di dalam jalan cerita. Karakter Katniss Everdeen jelas adalah sosok karakter yang begitu istimewa – tidak pernah digambarkan sebagai seorang pahlawan yang berusaha untuk menyelamatkan semua orang yang membutuhkan namun dengan kepribadiannya berhasil menggerakkan semua orang untuk menjadi pahlawan bagi diri mereka sendiri. Sosok karakter yang kuat dan rapuh di saat yang bersamaan. Lawrence dengan penuh kesungguhan menghidupkan karakter tersebut dengan baik dan sangat, sangat mengesankan.

Tidak hanya Lawrence, barisan pemeran pendukung dalam The Hunger Games: Catching Fire juga tampil lugas dalam memerankan karakter yang mereka perankan. Diantara para pemeran pendukung tersebut, Philip Seymour Hoffman, Sam Claflin dan Jena Malone berhasil tampil mencuri perhatian dalam penampilan akting mereka yang sangat kuat. The Hunger Games: Catching Fire juga didukung dengan kualitas tatanan produksi yang maksimal. Sinematografi arahan Jo Willems mampu memberikan deretan gambar yang begitu nyaman untuk disaksikan. Tata musik arahan James Newton Howard juga berhasil memberikan tambahan emosional bagi banyak adegan yang hadir dalam penceritaan The Hunger Games: Catching Fire.


Hadirnya Francis Lawrence, Simon Beaufoy dan Michael Arndt ternyata mampu mengangkat kualitas presentasi cerita dan pengarahan dari The Hunger Games: Catching Fire. Berkat jalinan cerita yang padat dari Beaufoy dan Arndt, The Hunger Games: Catching Fire tidak lagi terasa sebagai sebuah seri penceritaan yang berusaha menyenangkan para penonton young adult saja. Beaufoy dan Arndt memastikan bahwa penceritaan dari seri The Hunger Games turut bertambah dewasa seiring dengan berlanjutnya penceritaan seri film ini. Di kursi penyutradaraan, Lawrence mampu mengarahkan jalan ceritanya dengan sangat solid, menggarap cerita The Hunger Games: Catching Fire dengan ritme penceritaan yang tepat sekaligus mendapatkan penampilan akting terbaik dari jajaran pengisi departemen aktingnya, khususnya Jennifer Lawrence yang sekali lagi tampil begitu bersinar sebagai Katniss Everdeen. 

Sulit untuk membayangkan bagaimana seri berikut dari The Hunger Games akan mampu menyaingi penampilan kualitas dari The Hunger Games: Catching Fire. Sebuah sajian yang tetap menghibur namun lebih padat berisi dalam penyampaiannya. Intinya ini film sangat seru dan menghibur.

15 komentar:

  1. dibandingkan dengan twilight saga? Twilight saga aja belum pernah nonton meski cuma bajakannya. :D

    ga tahu kenapa, padahal ga pernah mengkhususkan genre.

    BalasHapus
    Balasan
    1. kayaknya kakak ini senengnya film bollywood ya, hehe

      Hapus
    2. ane sukanya film animasi. Detective conan the movie, Cars, Chicken Little, Cloudy with a Chance of Meatballs, dll :D

      Hapus
  2. Banyak yang bilang filmnya bagus tapi kebetulan belom nonton hahahaha

    BalasHapus
    Balasan
    1. bagus kok filmnya, cuman belum greget, soalnya masih ada lanjutannya lagi

      Hapus
  3. US $ 691 juta, untungnya banyak banget. Kalo di Indonesia kebanyakan yang "rugi bandar".

    BalasHapus
    Balasan
    1. lagian film Indonesia kebanyakan horor plus-plusan, tapi semakin ke sini film seperti itu udah mulai berkurang. Maju terus Indonesia!

      Hapus
  4. Wuihhh panjang banget riviyu nya,,,,,, baru tahu kalo trilogi....*nunggu
    Kalau mau download film yang mudah ke blog ane ya bro....

    Kita duel di LBI tapi berteman di kolom komentar ha ha ha

    BalasHapus
    Balasan
    1. wah...wah..wah lawan malah ikut komen juga nih, ha ha
      sengaja panjang soalnya ini film seru

      Hapus
  5. yg hunger game itu..sedrai dulu mupeng pengen nonton tp keburu turun dulu dari studionya deh

    BalasHapus
  6. Twilight Saga? Maksudnya Twilight yang film vampire itu? Duh saya gak hapal film Hollywood Mas, saya taunya horor Indonesia wkwk.. *selera yang parah*

    BalasHapus
    Balasan
    1. hahaha, mbak ini ternyata pecinta produk dalam negeri toh, Lanjutkan!

      Hapus
  7. dan begitu ditonton ternyata endingnya ngambang,, lebih menarik di sekuel Hunger Games yang pertama.

    http://mbaheariel.blogspot.com/2014/02/makanan-modern-sehat-di-perut-tak-sehat.html

    BalasHapus
    Balasan
    1. ya itulah, kurang greget, kayaknya yang paling seru itu yang ketiganya,

      Hapus

1. Anda boleh berkomentar memakai 'Name/URL'
isi kolom Name dengan 'keyword' blog anda! guna optimasi blog
2. Jangan SPAMMING!!!
3. Dan jangan masukkan LINK aktif

Silahkan berkomentar! Terimakasih